Showing posts with label Sirah. Show all posts
Showing posts with label Sirah. Show all posts

Kisah Nabi Sulaiman a.s dan Semut

gambar hiasan


Kisah 1
 
Kerajaan Nabi Sulaiman AS dikala itu sedang mengalami musim kering yang begitu panjang. Lama sudah hujan tidak turun membasahi bumi. Kekeringan melanda di mana-mana. Baginda Sulaiman AS mulai didatangi oleh ummatnya untuk meminta pertolongan dan memintanya memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan untuk membasahi kebun-kebun dan sungai-sungai mereka. Baginda Sulaiman AS kemudian memerintahkan satu rombongan besar pengikutnya yang terdiri dari bangsa jin dan manusia berkumpul di lapangan untuk berdo'a memohon kepada Allah SWT agar musim kering segera berakhir dan hujan segera turun. 

Sesampainya mereka di lapangan Baginda Sulaiman AS melihat seekor semut kecil berada di atas sebuah batu. Semut itu berbaring kepanasan dan kehausan. Baginda Sulaiman AS kemudian mendengar sang semut mulai berdo'a memohon kepada Allah SWT penunai segala hajat seluruh makhluk-Nya. "Ya Allah pemilik segala khazanah, aku berhajat sepenuhnya kepada-Mu, Aku berhajat akan air-Mu,   tanpa air-Mu ya Allah aku akan kehausan dan kami semua kekeringan. Ya Allah aku berhajat sepenuhnya pada-Mu akan air-Mu, kabulkanlah permohonanku", do'a sang semut kepada Allah SWT. Mendengar do'a si semut maka Baginda Sulaiman AS kemudian segera memerintahkan rombongannya untuk kembali pulang ke kerajaan sambil berkata pada mereka, "kita segera pulang, sebentar lagi Allah SWT akan menurunkan hujan-Nya kepada kalian. Allah SWT telah mengabulkan permohonan seekor semut". Kemudian Baginda Nabi Sulaiman dan rombongannya pulang kembali ke kerajaan.  

Kisah 2 

Suatu hari Baginda Sulaiman AS sedang berjalan-jalan. Ia melihat seekor semut sedang berjalan sambil mengangkat sebutir buah kurma. Baginda Sulaiman AS terus mengamatinya, kemudian beliau memanggil si semut dan menanyainya, Hai semut kecil untuk apa kurma yang kau bawa itu?. Si semut menjawab, Ini adalah kurma yang Allah SWT berikan kepada ku sebagai makananku selama satu tahun. Baginda Sulaiman AS kemudian mengambil sebuah botol lalu ia berkata kepada si semut, Wahai semut kemarilah engkau, masuklah ke dalam botol ini aku telah membagi dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya padamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan aku akan datang lagi untuk melihat keadaanmu. Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman AS. Setahun telah berlalu. 

Baginda Sulaiman AS datang melihat keadaan si semut. Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang. Baginda Sulaiman AS bertanya kepada si semut, hai semut mengapa engkau tidak menghabiskan kurmamu Wahai Nabiullah, aku selama ini hanya menghisap airnya dan aku banyak berpuasa. Selama ini Allah SWT yang memberikan kepadaku sebutir kurma setiap tahunnya, akan tetapi kali ini engkau memberiku separuh buah kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi karena engkau bukan Allah Pemberi Rizki (Ar-Rozak), jawab si semut.

Bidadari Tercantik

gambar hiasan




Bidadari merupakan salah satu anugerah Allah kepada seorang lelaki yang memasuki syurga. Bagi seorang wanita yang solehah maka bidadari bagi suaminya adalah dikalangan bidadari2 kurniaan Allah dan dia (isteri solehah merupakan ketua akan segala bidadari-bidadari tsb).

Berjihad pada agama Allah merupakan satu amalan yang menjadi kesukaan Allah swt dan ini merupakan sunnah besar nabi SAW dan kalangan sahabat-sahabat. Setiap manusia yang mati wlaupun berapa umurnya maka akan ditanya dimanakah masa mudanya dihabiskan.

Kisah......:

'Ainul Mardhiah merupakan seorang bidadari yang paling cantik dikalangan bidadari-bidadari yang lain (nama puteri bongsu saya -bermaksud mata yang di redhai). Suatu pagi (dalam bulan puasa) ketika nabi memberi targhib (berita-berita semangat di kalangan sahabat untuk berjihad pada agama Allah) katanya siapa-siapa yang keluar di jalan Allah tiba-tiba ia shahid, maka dia akan dianugerahkan seorang bidadari yang paling cantik dikalangan bidadari2 syurga. Mendengar berita itu seorang sahabat yang usianya sangat muda teringin sangat nak tahu bagaimana cantiknya bidadari tersebut.... tetapi dia malu nak bertanyakan kepada nabi kerana malu pada sahabat-sahabat yang lain. Namun dia tetap beri nama sebagai salah sorang yang akan keluar/pergi.  

Sebelum Zohor sunnah nabi akan tidur sebentar (dipanggil khailulah, maka sahabat yang muda tadi juga turut bersama jemaah tadi... tidur bersama-sama....

Dalam tidur tersebut dia bermimpi berada di satu tempat yang sungguh indah, dia bertemu dengan seorang yang berpakaian yang bersih lagi cantik dan muka yang berseri2 lalu ditanyanya dimanakah dia... lalu lelaki itu menjawab inilah syurga. Lalu dia menyatakan hasrat untuk berjumpa dengan 'Ainul Mardhiah... lalu ditunjuknya di suatu arah maka berjalan dia... di suatu pepohon beliau mendapati ada seorang wanita yang tak pernah dia lihat kecantikan begitu... takpernah dilihat didunia ini... lalu diberi salam dan dia bertanya andakah ainul mardhiah... wanita itu menjawab ehh tidakk... saya khadamnya ainul mardhiah ada di dalam singgahsana sana.

Lalu dia berjalan dan memasuki satu mahligai yang cukup indah dan mendapati ada seorang lagi wanita yang kecantikannya berganda-ganda dari yang pertama tadi sedang mengelap permata-mata perhiasan di dalam mahligai.... lalu diberi salam dan di tanya lagi adakah dia ainul mardiah lalu wanita itu menjawab..eh tidakkk saya hanya khadamnya di dalam mahligai ini... ainul mardiah ada di atas mahligai sana,..... lalu dinaikinya anak-anak tangga mahligai permata itu kecantikkannya sungguh mengkagumkan... lalu dia sampai ke satu mahligai dan mendapati seorang wanita yang berganda-ganda cantik dari yang pertama dan berganda-ganda catiknya dari yang kedua.... dan tak pernah dia lihat di dunia.... lalu wanita itu berkata ...akulah ainul mardhiah, aku diciptakan untk kamu dan kamu diciptakan untk aku.... bila lelaki itu mendekatinya wanita itu menjawab... nantiii kamu belum syahid lagiiii......tersentak itu pemuda itu pun terjaga dari tidurnya lalu dia menceritakan segala-galanya kepada satu sahabat lain, namun begitu dia memesan agar jangan menceritakan cerita ini kepada nabi SAW... tapi sekiranya dia shahid barulah ceritakan kepada nabi.

Petang itu pemuda itu bersama-sama dengan jemaah yang terdapat Nabi di dalamnya telah keluar berperang lalu ditakdirkan pemuda tadi telah shahid. Petang tersebut ketika semua jemaah telah pulang ke masjid, di waktu hendak berbuka puasa maka mereka telah menunggu makanan untuk berbuka (tunggu makanan adalah satu sunnah nabi). Maka kawan sahabat yang shahid tadi telah bangun dan merapati nabi SAW dan menceritakan perihal sahabat nabi yang sahaid tadi... dalam menceritakan itu nabi menjawab benar...benar...benar... dalam sepanjang cerita tersebut. Akhirnya nabi SAW berkata memang benar cerita sahabat kamu tadi dan sekarang ini dia sedang menunggu untuk berbuka puasa di syurga....
 
subhanallah...

Abdullah bin Hudzafah As Sahmy

gambar hiasan

Pahlawan yang kita kisahkan ini, sahabat Rasulullah SAW. bernama: ABDULLAH BIN HUDZAFAH AS—SAHMY.
 
Sebelumnya sejarah melewatkannya begitu saja, seperti milyunan orang-orang ‘Arab lainnya. Tetapi Islamlah yang kemudian menugaskan Abdullah bin Hudzhafah menemui dua orang raja besar dunia pada zamannya, yaitu Kisra, Maharaja Persia, dan Kaisar Agung, Maharaja Romawi. Pertemuan Abdullah dengan kedua raja dunia itu abadi dalam sejarah, dan mewarnai perjalanan sejarah itu sèndiri.
 
Pertemuan Abdullah bin Hudzafah dengan Kisra, Maharaja Persia, terjadi pada tahun keenam Hijriyah, yaitu ketika Rasulullah SAW. mulai mengembangkan Dakwah Islam ke seluruh pelosok dunia. Ketika itu beliau berdakwah melalui surat kepada raja-raja ‘Ajam (non Arab), mengajak mereka masuk Islam.

Rasullulah SAW. telah memperhitungkan resiko yang mungkin timbul dalam pekerjaan penting ini. Para utusan akan diberangkatkan ke negeri-negeri. asing yang belum mereka kenal selama ini. Mereka tidak paham bahasa negeri-negeri yang mereka tuju, belum mengenal seluk-beluk pemerintahan, sosial, dan budayanya. Tetapi mereka harus pergi ke sana mengajak raja-raja asing itu meninggalkan agama mereka semula dan agar mereka menanggalkan kemegahan dan kekuasaaan mereka, untuk tunduk kepada agama Islam yang dianut oleh suatu bangsa yang kemaren menjadi rakyat taklukan mereka. Memang suatu tugas yang berat dan berbahaya. Pergi ke sana berarti hilang. Kalau toh bisa kembali, berarti suatu kelahiran baru. Karena itu Rasulullah SAW. mengum pulkan para sahabat, kemudian beliau berpidato dihadapan mereka.
 
Seperti biasa, mula-mula Rasulullah SAW. memuji Allah SWT. dan membaca tasyahhud. Sesudah itu beliau berkata:
 
“Sesungguhnya aku telah merencanakan hendak mengirim beberapa orang di antara kalian kepada raja raja ‘Ajam. Karena itu janganlah kalian menolak gagasan ku, seperti Bani Israil menolak gagasan Isa bin Maryam.”
 
Jawab para sahabat, “Kami senantiasa siap melaksanakan segala perintah Rasulullah. Kami bersedia dikirim ke. mana saja dihendaki Rasulullah.”
 
Rasulullah menunjuk enam orang sahabat untuk menyampaikan surat beliau kepada raja-raja ‘Arab dan ‘Ajam. Salah seorang di antara mereka ialah Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy, dipilih beliau untuk menyampaikan surat kepada Kisra Abrawiz, Maharaja Persia.
 
Abdullah bin Hudzafah telah menyiapkan kendaraannya untuk berangkat. Anak-anak dan keluarganya dititipkannya kepada para sahabat. Kemudian dia berangkat ke tujuan, mengemban tugas dan Rasulullah dengan semangat dan tanggung jawab penuh. Gunung yang tinggi didakinya; lembah yang dalam dituruninya. Dia berjalan seorang diri, tiada berteman selain Allah SWT.
 
Akhirnya Abdullah bin Hudzafah tiba di ibu kota Persia. Dia minta izin masuk untuk bertemu dengan Kisra. Abdullah memberitahukan kepada pengawal, bahwa dia utusan Rasulullah untuk menyampaikan surat kepada Kisra. Pengawal memberi tahu Kisra, ada utusan membawa surat untuk Baginda.
 
Kisra memanggil segala pembesar supaya hadir ke majlis Kisra. Kemudian Kisra mengizinkan Abdullah bin Hudzafah masuk menghadap baginda di majlis yang serba gemilang itu. Abdullah menghadap dengan pakaian sederhana, seperti kesederhanaan orang-orang Islam, tetapi kepalanya tegak, jalannya tegap. Dalam tulang belulangnya mengalir keperkasaan Islam. Di dalam hatinya menyala kekuasaan Iman.
 
Tatkala Kisra melihat Abdullah menghadap, dia memberi isyarat kepada pengawal supaya menenima surat yang dibawa Abdullah. Tetapi Abdullah menolak memberikannya kepada pengawal.
 
Kata Abdullah, “Jangan…! Rasulullah memerintahkan supaya memberikan surat ini langsung ke tangan Kisra tanpa perantara Aku tidak mau menyalahi perintah Rasulullah”
 
Kata Kisra kepada pengawal, “Biarkan dia mendekat kepadaku!” Abdullah menghampiri Kisra, kemudian surat itu diberikannya ketangan Kisra sendiri. Kisra memanggil sekretaris berkebangsaan ‘Arab, berasal dari Hirah. Kemudian Kisra memerintahkan sekretaris itu membuka surat tersebut di hadapan baginda dan menyuruh membacakan isinya:
 
“Dari Muhammad Rasulullah, kepada Kisra, Maharaja Kisra.
 
Berbahagialah siapa yang mengikut petunjuk….”
 
Baru sampai di situ sekretaris membaca surat, api ke marahan menyala di dada Kisra. Mukanya merah, dan urat lehernya membengkak. Hal itu ialah karena Rasulullah menyebut nama beliau sendiri lebih dahulu sebelum menuliskan nama Kisra. Lalu Kisra merebut surat tersebut dari tangan sekretaris, dan menyobeknya tanpa mengetahui isi surat selanjutnya.
 
Kisra berteriak, “Berani-berani dia menulis seperti itu kepadaku….! padahal dia budakku…!” Lalu diperintahkannya mengusir Abdullah bin Hudzafah dari majlis.
 
Abdullah bin Hudzafah keluar dan Majlis Kisra. Dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya sesudah itu. Mungkin dia akan dibunuh dan mungkin pula akan tetap hidup di dunia bebas. Tetapi tidak lama Abdullah berpikiran begitu, ia pun berkata kepada dirinya sendiri, ‘Demi Allah! Aku tidak peduli apa pun yang akan terjadi. Yang penting tugas yang dibebankan Rasulullah kepadaku telah kulaksanakan dengan baik. Surat Rasulullah telah kusampaikan ke tangan yang bersangkutan.” Lalu dengan sigap dia melompat naik kendaraannya, dan berpacu secepat-cepatnya. Setelah kemarahan Kisra Abrawiz agak mereda, diperintahkannya pula para pengawal supaya menghadapkan Abdullah kembali. Tetapi Abdullah sudah tidak ada di tempat. Para pengawal mencari Abdullah ke mana mana. Jejaknya pun tidak dapat mereka temukan. Mereka melacak Abdullah di jalan yang menuju ke Jazirah ‘Arab. Tetapi Abdullah sudah jauh, sehingga tidak mungkin tersusul oleh mereka.
Setibanya Abdullah di hadapan Rasulullah, dilaporkannya segala kejadian yang dilihat dan dialaminya, dan perbuatan Kisra menyobek surat beliau.
 
Mendengar laporan Abdullah, Rasulullah berkata :
 
“Semoga Allah menyobek-nyobek kerajaannya pula!”
 
Kisra menulis surat kepada Badzan, wakil baginda di Yaman untuk menangkap Rasulullah, kemudian membawa beliau ke hadapan Kisra.
 
Badzan segera melaksanakan perintah Maharaja Persia yang dipertuan. Badzan mengirim dua orang yang pilihan untuk menangkap Rasulullah, disertai sepucuk surat untuk beliau.
 
Surat itu memerintahkan Rasulullah agar segera berangkat menghadap Kisra bersama-sama dengan kedua orang itu tanpa menunggu-nunggu.
 
Badzan memerintahkan pula kepada kedua utusannya supaya menyelidiki dengan seksama di mana Rasulullah berada, agar teliti dalam segala urusan, dan supaya melapor kepadanya sewaktu-waktu.
 
Kedua utusan Badzan segera berangkat. Maka dalam tempo singkat keduanya telah sampai di Thaif. Di sana mereka bertemu dengan para pedagang suku Quraisy. Keduanya bertanya kepada mereka di mana Rasulullah berada. Para pedagang mengatakan, “Muhammad berada di Yatsrib.”

Kemudian para pedagang itu meneruskan perjalanan mereka ke Makkah. Setibanya di Makkah, mereka menyiarkan berita gembira kepada penduduk Makkah. Kata mereka, “Tenanglah kalian…! Kisra akan membunuh si Muhammad, dan melindungi kalian dan kejahatannya.”

Kedua utusan Badzan terus ke Madinah. Mereka langsung menemui Rasulullah dan menyampaikan surat Badzan kepada beliau:

Kata mereka, “Kisra, Maharaja Persia mengirim surat kepada Raja kami, Badzan, memerintahkan kami menemui Anda. Kisra memerintahkan kami supaya membawa Anda bersama-sama dengan kami menghadap baginda. Jika Anda berkenan pergi bersama-sama kami, Kisra mengatakan, itulah yang sebaik-baiknya bagi Anda, karena baginda tidak akan menghukum Anda. Tetapi jika Anda mengabaikan perintah Baginda, Anda tentu sudah tahu, baginda sangat berkuasa untuk membinasakan Anda!”
 
Rasulullah SAW. tersenyum-senyum mendengar perkataan utusan Badzan.
 
Beliau berkata kepada mereka, “Sebaiknya Tuan-tuan beristirahat lebih dahulu sampai besok.
 
Besok pagi Tuan tuan boleh kembali ke sini!”
 
Besok pagi kedua utusan itu datang kembali menemui Rasulullah, sesuai dengan janji.
 
Kata mereka, “Sudah siapkah Anda berangkat bersama-sama dengan kami menemui Kisra?”

Jawab Rasulullah, “Tuan-tuan tidak dapat lagi bertemu dengan Kisra sesudah hari ini. Kisra telah dibunuh oleh anaknya sendiri Syirwan, pada jam sekian, detik sekian, hari dan bulan itu…!”

Kedua utusan Badzan melihat wajah Rasulullah SAW dengan mata terbelalak keheranan.
 
“Sadarkah Anda dengan ucapan Anda?” tanya mereka. “Bolehkan kami tulis ucapan Anda itu untuk Badzan?”
 
“Silakan…! Bahkan boleh Tuan-tuan tambahkan, bahwasanya agamaku akan mencapai seluruh kawasan kerajaan Kisra. Jika Badzan masuk Islam, maka wilayah yang berada di bawah kekuasaannya akan saya serahkan kepadanya. Kemudian Badzan sendiri kuangkat menjadi raja bagi rakyatnya.” jawab Rasulullah yakin.
 
Kedua utusan Badzan meninggalkan Rasulullah SAW. Mereka kembali menghadap Badzan.
 
Mereka melapor kepada Badzan pertemuannya dengan Rasulullah SAW, dan menyampaikan pesan beliau kepadanya.
 
Kata Badzan, “Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar, sesungguhnya dia seorang Nabi. Jika tidak, ucapannya itu hanya mimpi belaka.”

Tidak berapa lama kemudian, tibalah surat Syirwan kepada Badzan. Kata Syirwan, “Kisra telah saya bunuh. Aku terpaksa membunuhnya karena dia menindas rakyat kami. Para bangsawan kami habiskan. Wanita-wanita mereka kami tawan. Dan harta benda mereka kami rampas. Maka bila suratku ini telah engkau baca, kamu dan rakyatmu hendaklah menyatakan tunduk kepadaku!”

Selesai membaca surat itu, Badzan mengumumkan kepada seluruh rakyatnya, mulai saat ini dia masuk Islam. Mendengar pengumumannya itu, maka Islam pula semua pembesar dan orang-orang keturunan Persia yang berada di Yaman.
 
Itulah kisah pertemuan Abdullah bin Hudzafah As Sahmy dengan Kisra, Maharaja Persia.
 
Nah…! Bagaimana pula kisah pertemuannya dengan Kaisar Agung, Maharaja Rum?
 
Pertemuan Abdullah bin Hudzafah As Sahmy dengan Kaisar Agung, terjadi pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khaththab Al Faruq. Kisahnya merupakan kisah yang amat mengagumkan.
 
Pada tahun kesembilan-belas Hijriyah, Khalifah ‘Umar mengirim angkatan perang kaum muslimin memerangi kerajaan Rum. Dalam pasukan itü terdapat seorang perwira senior, Abdullah bin Hudzafah As Sahmy,
 
Kaisar Rum telah mengetahui keunggulan dan sifat-sifat tentara muslimin. Sumber kekuatan mereka ialah Iman yang membaja, dan kedalaman aqidah, serta keberanian mereka menghadang maut. Mati fisabilillah menjadi tekad dan cita-cita hidup mereka. Kaisar memerintahkan kepada para perwiranya, “Jika kalian berhasil menawan tentara muslimin, jangan kalian bunuh mereka. Tetapi bawa ke hadapanku!” Ditakdirkan Allah, Abdullah bin Hudzafah tertawa. Abdullah dibawa mereka ke hadapan Baginda Kaisar. Kata mereka, “Tawanan ini adalah sahabat Muhammad. Dia termasuk sahabat senior, dari kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Dia tertawan, lalu kami bawa ke hadapan Paduka.”
 
Lama juga kaisar memperhatikan Abdullah bin Hudzafah. Sesudah itu baru dia berkata, “Saya hendak menawarkan sesuatu kepada engkau.”
 
“Apa yang hendak Anda tawarkan?” tanya Abdullah.
‘Maukah engkau masuk agama Nasrani? Jika engkau mau, saya bebaskan engkau, kemudian saya beri pula hadiah besar,” kata Kaisar.
 
Abdullah bernafas dalam-dalam, lalu menjawab:
 ‘Yaah …., aku lebih suka mati seribu kali daripada menerima tawaran Anda,” kata Abdullah mantap.
 
Kata Kaisar, “Saya lihat engkau seorang perwira yang pintar. Jika engkau mau menerima tawaranku, saya angkat engkau menjadi pembesar kerajaan, dan saya bagi kekuasaan saya dengan engkau.”
 
Abdullah yang diborgol itu tersenyum. Kemudian ia berkata: “Demi Allah! Seandainya Anda berikan kepadaku semua kerajaan Anda, ditambah dengan semua kerajaan ‘Arab, agar aku keluar dari agama Muhammad agak sebentar saja, niscayalah aku tidak dapat menerimanya.”
 
Kata Kaisar, “Kalau begitu, saya bunuh engkau!”
 
Jawab Abdullah, “Silakan…! Lakukanlah sesuka Anda!”
 
Abdullah disuruhnya ikat di kayu salib. Kemudian diperintahkannya tukang panah memanah lengan Abdullah.
 
Sesudah itu Kaisar bertanya, “Bagaimana…? Maukah engkau masuk agama Nasrani?”
 
“Tidak!” kata Abdullah.
 
‘Panah kakinya!” perintah Kaisar.
 
Maka dipanah orang pula kakinya.
 
“Nah! Maukah engkau pindah agama?” tanya Kaisar membujuk
 
Abdullah tetap menolak.
 
Sesudah itu Kaisar menyuruh hentikan siksaan dengan panah, lalu Abdullah diturunkan dari tiang salib. Kemudian Kaisar meminta sebuah kuali besar, lalu dituangkan minyak ke dalam dan diletakkan orang di atas tungku berapi. Setelah minyak menggelegak, Kaisar meminta dua orang tawanan muslim. Seorang di antaranya disuruhnya lemparkan ke dalam kuali. Sebentar kemudian, daging orang itu hancur sehingga keluar tulang belulangnya. 

Kaisar menoleh kepada Abdullah, dan membujuknya masuk Nasrani. Tetapi Abdullah menolak lebih keras. Setelah Kaisar putus asa, diperintahkannya melemparkan Abdullah ke dalam kuali. Ketika pengawal menggiring Abdullah ke dekat kuali, Abdullah menangis.
 
Para pengawal mengatakan kepada Kaisar, ‘Dia menangis, Paduka!”
 
Kaisar menduga, tentu Abdullah menangis karena takut mati.
 
Kata Kaisar, “Bawa dia kembali kepadaku!”
 
Abdullah berdiri kembali di hadapan Kaisar.

Kaisar menanyakan apakah Abdullah mau menjadi Nasrani. Dengan Iman yang kokoh kuat, Abdullah tetap menolak bujukan Kaisar.
 
Kata Kaisar, “Celaka…! Mengapa engkau menangis?”

Jawab Abdullah, “Aku menangis karena keinginanku selama ini tidak terkabul. Aku ingin mati di medan tempur perang fisabiillah. Ternyata kini, aku akan mati konyol dalam kuali.”
 
“Maukah engkau mencium kepalaku? Nanti kubebaskan engkau!” kata Kaisar dengan angkuh.
 
Jawab Abdullah, “bebas beserta semua kawan-ka wanku tawanan muslim?”
 
Jawab Kaisar, “Ya, saya bebaskan engkau berserta semua tawanan muslim.”
 
Abdullah berpikir sejenak, “Aku harus mencium kepala musuh Allah. Tetapi aku dan kawankawan yang tertawan bebas. Ah.. tidak ada ruginya.”
 
Abdullah menghampiri Kaisar, lalu diciumnya kepala musuh Allah itu.
 
Sesudah itu Kaisar memerintahkan para pengawal mengumpulkan semua tawanan muslim untuk dibebaskan dan diserahkan kepada Abdullah bin Hudzafah.
 
Setibanya ‘Abduflah bin Hudzafah di hadapan Khalifah ‘Umar bin Khaththab, dilaporkannya kepada beliau semua yang dialaminya serta pembebasannya berikut sejumlah tentara muslimin yang tertawan. Khalifah sangat gembira mendengarkan laporan Abdullah. Ketika Khalifah memeriksa prajurit muslim yang tertawan dan bebas bersama-sama Abdullah, beliau berkata, “Sepantasnyalah setiap orang muslim mencium kepala Abdullah bin Hudzafah. Nah…! Aku yang memulai….!”
 
Khalifah berdiri seketika itu juga, lalu mencium kepala Abdullah bin Hudzafah As Sahmy.

[sumber : Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah SAW terjemah Shuwarun min Hayaati Ash-Shahabah]

AMANAT PENTING RASULULLAH S.A.W DALAM PERNIAGAAN



Salam pembuka bicara, pembuka buat sajian minda pembaca, silakan bacaan dengan Nama Tuhan-mu. Nabi Muhammad s. a. w. sebagaimana yang kita ketahui, dipelihara oleh bapa saudaranya, Abu Talib setelah kematian datuknya, Abdul Muttalib.

Semenjak kecil lagi, baginda Rasulullah telah memperlihatkan kemuliaan akhlaknya serta keelokan budi pekertinya. Baginda pernah melakukan kerja-kerja menternak kambing dan berniaga membantu bapa saudaranya. Bermula dari sinilah titik tolak baginda menjalankan kerja-kerja perniagaan. Ketika baginda berusia dua belas tahun, baginda mengikut bapa saudaranya ke Syam atas urusan perniagaan.

Abu Talib telah membawa baginda ke Syam (Syria) bagi membantunya berniaga. Perjalanan ini merupakan perjalanan yang pertama dilakukan di luar Kota Mekah. Dalam perjalanan itu, baginda telah mengenali dunia perdagangan, menyaksikan peninggalan-peninggalan yang masih terdapat di daerah-daerah yang telah dilalui baginda dan melihat adat tradisi yang diamalkan oleh penduduk-penduduk negeri tersebut.

Pengalaman menjalankan peniagaan bapa saudaranya telah meninggalkan kesan yang jelas dalam diri baginda. Baginda dapat menjalankan perniagaan dengan baik serta mendapat keuntungan yang banyak. Apabila baginda telah agak dewasa, baginda telah mula menjalankan perdagangan baginda sendiri secara kecil-kecilan di Mekah atau pun menjalankan perniagaan dengan menggunakan modal orang lain kerana baginda sedar bapa saudaranya bukanlah terdiri daripada orang yang berada dan beliau terpaksa menyara sebuah keluarga yang besar.

Ketika baginda berusia dua puluh lima tahun, baginda telah pergi ke Syam untuk kali kedua bagi menjalankan perniagaan Sayidatina Khadijah. Sayidatina Khadijah adalah seorang janda kaya dan saudagar yang masyhur. Beliau terkenal dengan kemuliaan budi pekertinya dan kekayaan hartanya.

Pada kali ini, baginda pergi ke Syam dengan ditemani oleh Maisarah iaitu pembantu Khadijah yang amanah, baik hati dan ikhlas. Pada suatu hari, ketika baginda menjalankan perniagaan di Syam, telah berlaku pertengkaran kecil di antara orang yang datang membeli dengan baginda. Orang itu meminta baginda bersumpah dengan nama dua patung ‘latta’ dan ‘uzza’ yang dipuja dan disembah oleh orang Arab ketika itu.

Baginda menjawab dengan lembut tetapi tegas. Baginda mengatakan bahawa baginda tidak akan sekali-kali bersumpah dengan dua patung yang dibencinya itu. Keadaan ini memperlihatkan bahawa baginda rasulullah tidak sekali-kali melakukan perkara-perkara yang dilarang agama khususnya dalam perkara aqidah biar pun hal tersebut boleh membawa faedah duniawi. Baginda sentiasa mengingatkan umatnya supaya tidak selalu bersumpah kerana baginda pernah bersabda yang bermaksud:

"Elakkanlah daripada terlalu banyak bersumpah ketika menjalankan urusan perniagaan kerana ia dapat menarik pelanggan dengan mudah tetapi menghapuskan keberkatan." Rasulullah menjalankan perniagaan dengan penuh kejujuran, amanah serta ikhlas sehingga baginda mampu memperdagangkan barang-barang Khadijah dengan mendapat keuntungan yang lebih banyak daripada apa yang diperolehi oleh orang lain sebelumnya.

Pengajaran Daripada Sirah ini:

1. Rasulullah merupakan seorang yang mempunyai kefasihan dalam tutur katanya. Tutur katanya lembut, lunak didengar, tidak pernah berbohong dan sentiasa jujur. Oleh itu, tidak hairanlah apabila baginda mengendalikan perniagaan harta Khadijah, baginda memperoleh keuntungan yang banyak. Terdapat sebuah hadis yang menceritakan kefasihan baginda yang telah diriwayatkan oleh Al-Tarmizi dari Syaidatina Aishah: Bermaksud: "Adalah Rasulullah berkata-kata dengan perkataan yang terang serta jelas lagi tegas, dapat difahami oleh setiap orang yang mendengarnya (duduk bersama baginda).

2. Baginda mengutamakan keredhaan Allah dan keberkatan mencari rezeki yang halal supaya perniagaan sentiasa berada dalam garisan syariat dan terhindar daripada corak perniagaan orang-orang kafir yang terdapat unsur penipuan, riba’, pengurangan dalam timbangan dan lain-lain. Oleh itu, kejujuran, amanah, menjaga segala gerak geri dan tutur kata amat penting bagi seorang ahli perniagaan kerana sifat-sifat mulia itu akan menjadikan seseorang peniaga itu dipercayai. Rasulullah melarang jual beli barang yang mengandungi unsur tipu daya.

3. Rasulullah bekerja keras mencari penghidupan yang halal. Baginda menjalankan perniagaan bukan sahaja untuk menyara kehidupan baginda tetapi juga untuk mengukuhkan potensi baginda agar orang yang kaya tampil ke hadapan untuk menghulur modal mereka untuk digunakan oleh baginda bagi tujuan perniagaan. Muamaalah seperti ini amat digalakkan oleh Islam kerana terdapatnya unsur bantu membantu di kalangan mereka yang berada dan tidak berada. Firman Allah SWT dalam surah Al Ma’idah ayat 2: Bermaksud: "Dan hendaklah kamu bantu membantu dalam perkara-perkara kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu sekali-kali bantu membantu dalam perkara-perkara kejahatan dan permusuhan."

4. Semenjak usia baginda masih kecil lagi, baginda telah berusaha untuk menyara kehidupan dan tidak bergantung kepada bapa saudaranya. Baginda sentiasa berusaha mencari rezeki yang halal seperti menjalankan perniagaan. Perkara ini perlu dijadikan pengajaran dan iktibar bagi anak-anak muda pada masa kini.

5. Walaupun Rasulullah tidak mempunyai modal sendiri untuk berniaga, baginda sentiasa berusaha untuk menceburkan diri di dalam bidang ini dengan mengambil upah daripada orang-orang yang mempunyai modal tetapi tidak dapat melaburkan modalnya sendiri, mereka memerlukan orang lain untuk menjalankan perniagaanya.

6. Oleh kerana baginda Rasulullah telah bekerja sejak daripada muda lagi, baginda telah dikenali ramai dengan sifat kejujurannya dan ketekunannya dalam bekerja. Keadaan ini menyebabkan peluang baginda untuk menjalankan perniagaan orang-orang yang memerlukan bantuan adalah cerah.

7. Perniagaan baginda Rasulullah ke atas harta Khadijah memperlihatkan kepada kita tentang ebaik-baik harta adalah dari hasil sendiri yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan diri sendiri dan masyarakat seluruhnya. Manakala seburuk-buruk kemewahan ialah kemewahan yang diperolehi tanpa kesusahan dan tidak memberi sebarang manfaat kepada masyarakat.

8. Selepas baginda Rasulullah berkahwin dengan Sayidatina Khadijah, baginda masih tetap menjalankan perniagaan seperti biasa dan menjadi pengurus dan rakan perniagaan isteri baginda sehinggalah baginda diangkat menjadi rasul.

9. Baginda Rasulullah bekerja sebagai saudagar hanya untuk memenuhi keperluan hidup baginda dan bukan untuk menjadi jutawan kerana baginda tidak pernah menunjukkan kecintaan terhadap kekayaan. Oleh itu baginda menceburkan diri dalam perniagaan semata-mata untuk mencari rezeki yang halal dan memenuhi keperluan hidup seharian. Melalui penglibatannya dalam perniagaan, kita dapati bahawa baginda Rasulullah menjalankan perniagaan dengan penuh kejujuran dan keadilan. Sikap ini membuatkan pelanggan-pelanggan tidak pernah bersungut dan merasa berpuas hati dengan baginda. Tidak pernah terjadi pergaduhan di antara baginda dengan pelanggan. Segala masalah akan diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Sikap jujur, adil, amanah dan bertanggungjawab adalah merupakan prinsip asas dalam perniagaan. Prinsip ini sepatutnya menjadi contoh teladan kepada para peniaga dalam menjalankan urusniaga perniagaan.

10. Baginda Rasulullah sentiasa mengamalkan sikap baik hati dan lemah lembut ketika menjalankan perniagaan. Jabir telah meriwayatkan bahawa Rasulullah telah bersabda yang bermaksud: "Allah SWT mencucuri rahmat kepada orang yang berbuat baik ketika ia berjual, ketika ia membeli dan ketika ia membuat tuntutan."

11. Pertukaran barangan yang diadakan dengan persetujuan kedua-dua belah pihak dalam urusniaga perdagangan merupakan pertukaran yang sah dan halal. Allah melarang manusia daripada mengambil barang orang lain tanpa mendapat persetujuan dan keizinan daripada mereka. Perkara ini penting untuk mengekalkan ketenteraman dan kesejahteraan di dalam masyarakat serta untuk menjaga hubungan baik dan mesra di antara ahli sesebuah masyarakat. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Nisa’ ayat 29: Bermaksud:

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan harta yang ada di antara kamu dengan jalan batil melainkan dengan cara jual beli suka sama suka (redha meredhai) di antara kamu." ‘Jalan yang batil’ termasuklah semua jual beli yang mengikut jalan yang salah yang bertentangan dengan hukum-hukum prinsip Islam dan yang sesat serta tidak bermoral dan beretika. Semua perniagaan hendaklah dijalankan dengan persetujuan bersama bukan dengan jalan paksaan dan penipuan. Sabda Rasulullah s. a. w. Bermaksud: "Sesungguhnya jual beli itu hanya sah dengan cara redha meredhai (suka sama suka).

12. Riba’ dalam apa jua bentuk sekali pun adalah dilarang Allah, manakala semua jenis jual beli yang tidak terkeluar daripada syariat Islam adalah halal. Firman Allah SWT. Bermaksud: "Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba’.

Sumber : Majalah Muslimah Edisi Jun Sepuluh tahun yang lalu..

Air mata seorang Nabi...kerana Umat'nya

 

Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut
Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar
cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan
Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai
menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan
sayap. 



Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas
memberikan kutbah,
"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah
dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah
kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al
Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku,
bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang
mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata
Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap
sahabatnya satu persatu.
 

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar
dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman
menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya
dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah
tiba.
 

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"keluh hati
semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan
tugasnya di dunia.Tanda-tanda itu semakin kuat,
tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap
Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika
turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh
sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan
detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu
rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya,
Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya
yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang
menjadi alas tidurnya.
 

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang
berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang
membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata
sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
"Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini
aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan
pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi
bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan
sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malakul maut," kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut
datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa
Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian
dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di
atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan
penghulu dunia ini.
 

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?"
Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah
menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti
kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak
membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya
Jibril lagi.
Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah
mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga
bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di
dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan
tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh
tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya
menegang.
Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan
Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di
sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril
memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu
Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar
wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah
direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana
sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua
siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."Badan
Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak
bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak
membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan
telinganya.
 

"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku,
peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah
di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar
bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah
menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai
kebiruan.
 

"Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku,
umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang
memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai
sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik
wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan
kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul
kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti
Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya
selain daripada itu hanyalah fana belaka.
Amin....



kita renungkan bersama-sama ya..


p/s>> sumbernya ana x ingat amek kat mane..